Rabu, 18 Mei 2011

Siapakah Sahabat Sejati?

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary


“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”

Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, karena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun.

Pada saat begitu Dia memerintahkan anda dan melarang anda, namun anda maksiat pada-Nya, namun Dia tidak meninggalkan anda, bahkan dengan rasa belas kasih-Nya Dia memanggilmu untuk datang kepada-Nya di saat anda alpa.

Namun jika yang tahu aib anda secara detil itu adalah makhluk, maka para makhluk pun justru meninggalkan anda dan melempari anda atas perbuatan anda selama ini. Namun Allah Swt dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya senantiasa malah menjaga anda. Namun yang menyadari itu sangat sedikit.

Allah Swt tidak pernah meminta imbal balik kita dibalik perlindungan, perintah, tuntutan dan larangan-Nya. Sedangkan pergaulan dan persahabatan dengan makhluk penuh dengan tuntutan dan kepentingan. Maka sahabat sejati sesungguhnya yang menyadarkan kepentingan yang kembali pada diri kita, hal-hal yang berguna maupun hal-hal mana yang berbahaya.

Namun rasa yaqin yang rendah dan lemah membuat anda terhijab dari semua itu. Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Seandainya cahaya yaqin memancar, pasti anda melihat akhirat lebih dekat padamu dibanding anda menempuhnya. Dan sungguh anda memandang keindahan dunia tak lebih dari reruntuhan fana yang tampak padanya.”

Dunia hanyalah khayal dalam wujudnya, apabila anda benar-benar tercerahi oleh cahaya yaqin.
Ahmad bin Ashim al-Anthaky ra menegaskan, “Yaqin adalah nur yang dijadikan Allah swt dalam hati hamba-Nya, hingga ia melihat perkara akhiratnya dan cahaya itu membakar semua hijab antara Dia dan dirinya, sampai akhirat tampak begitu jelas dalam perspektifnya.”

Suatu hari Rasulullah Saw, bertanya kepada Haritsah ra, “Apa kabarmu pagi ini wahai Haritsah?”
“Saya dalam kondisi beriman yang benar,” jawab Haritsah.
Rasulullah saw, bersabda, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apa hakikat imanmu?”
“Seakan-akan saya berada di Arasy Tuhanku benar-benar ditegakkan dan saya melihat ahli syurga sedang menikmati nikmat-nikmat-Nya di syurga dan ahli neraka sedang saling minta pertolongan,” kata Haritsah.

Rasulullah saw, bersabda, “Kamu sedang mengenal maka teguhlah. Seorang hamba yang qalbunya dicerahi cahaya oleh Allah….” (Al-Hadits).
Rasulullah saw, pernah bersabda, “Bila cahaya masuk dalam hati, maka hati akan lapang…”
Rasul saw, ditanya, “Wahai Rasulullah apakah ada tanda untuk mengenal itu?”
Beliau menjawab, “Merasa kosong di negeri tipudaya dan kembali pada negeri keabadian, serta mempersiapkan bekal mati sebelum waktunya tiba…”


by ayah bia & ifor

Dosa-dosamu Jangan Memutus Istiqomahmu

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

"Manakala anda terjerumus dalam dosa, janganlah kenyataan itu membuatmu putus asa dalam meraih Istiqomahmu dengan Tuhanmu. Kadang-kadang, – siapa tahu – itulah akhir dosa yang ditakdirkan oleh Allah padamu.”
Jadikan keterjerumusan itu sebagai pintu taubat dan inabah demi beharap kepada Allah Ta’ala, sekaligus sebagai pintu khauf (rasa takut) kepadaNya. Sebab putus asa terhadap rahmat Allah itu bentuk tipudaya yang gelap, bahkan syetan harus berputus asa karena tidak mampu memperdayai anda dibalik tindakan dosa itu.
mam Al-Ghazaly ra, menegaskan, “Sebagaimana dosa merebut anda, dan kembali kepada dosa sebagai aktivitas anda, maka jadikanlah taubat dan kembali kepadaNya sebagai aktivitas. Karena orang yang beristighfar tidak akan mengulang-ulang dosanya, walau ia mengulang tujuhpuluh kali setiap harinya.”
Kita bisa mengambil pelajaran dari Fir’aun, yang dosanya benar-benar memuncak dan paling besar, toh Allah Ta’ala masih memerintahkan kepada Nabi Musa as dan Nabi Harun as, “Katakan padanya dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu ia bisa tersadarkan atau ia memiliki rasa gentar dan takut (Kepada Allah Swt).” (Thaha 44)

Betapa banyak orang yang kembali bertobat dan menjadi Istiqomah gara-gara perbuatan dosanya, dan sebaliknya betapa banyak orang yang akhirnya malah maksiat gara-gara ibadahnya, dimana ia bangga dengan prestasi amal ibadah, lalu takjub pada diri sendiri, kemudian riya’ dan takabur.

Optimisme pada rahmat dan anugerah Allah Ta’ala harus menjadi titik utama ke depan. Karena bila manusia bertaubat dengan taubatan Nasuha, malah seluruh dosanya diampuni.

Tetapi jangan sampai manusia meremehkan perbuatan dosa dengan beralibi, “Allah Maha Ampun, atau ampunan Allah lebih besar dibanding dosanya, atau apa artinya dosaku kalau dibanding rahmat Allah….” dst. Yang menggiring seseorang terbelit dosa terus menerus.
Pandangan Ibnu Athaillah untuk mengingatkan kita agar kita tidak putus asa pada RahmatNya, bahkan dalam kondisi terpuruk oleh dosa sekali pun.

Allah Swt, justru menghampiri kepada para pendosa agar kembali kepadaNya, karena dibalik “kembali” itu ada “cinta” yang begitu agung dariNya. Cinta itu sangat luhur dan besar nilainya disbanding apa pun. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat.” Begitu ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Bahkan di awal kitab Al-Hikam ini disebutkan, “Tanda-tanda manusia bergantung dan mengandalkan amalnya, adalah kehilangan harapan (terhadap rahmat Allah) ketika berbuat dosa.”

Rasa kehilangan akan harapan ampunan dan rahmat adalah bentuk pesimisme yang berbahaya, karena pada saat yang sama seseorang tidak menggantungkan diri pada Sang Pencipta Amal, malah menggantungkan pada amal itu sendiri yang diklaim sebagai perbuatannya.

Padahal amal baik tidak menjamin seseorang masuk syurga, dan amal buruk tidak otomatis seseorang pasti masuk neraka. Masuk neraka itu semata karena keadilan Allah, dan masuk syurga karena rahmat dan ridhoNya.

Bila anda meraih rahmat dan ridhoNya, maka taat dan kepatuhan anda sebagai tanda memang anda ditakdirkan masuk syurga. Sedangkan bagi mereka yang mendapat keadilan Allah Swt, (na’udzubillahi min dzaalik) seseorang ditandai dengan berbuat maksiat dan menuruti nafsunya belaka di dunia.

by ayah bia

Sabtu, 23 April 2011

Ukuran...

Ketika temgah datang ke sebuah persewaan game PC..tiba -tiba aku bertemu dengan adik seorang sahabat...Ditengah tengah enak-enaknya berbincang tentang bagaimana kabar dia sekeluatga..tiba-tiba dia bertanya tentang kemungkinan meng up-grade komputernya..pasalnya game yang dia inginkan tak bisa di install di komputernya karena kapasitas yang dibutuhkannya sangat besar...sementara komputernya tak memungkinkan untuk itu..
iseng saja aku nyelentuk kenapa dia tidak memilih game yang lain saja yang bisa dia mainkan di komputernya, daripada dia repot-repot memperbesar kapasitas komputernya hanya untuk itu...toh itu bukan kebutuhan utama...
Aku termenung betapa banyak orang memilih disibukkan sesuatu yang rumit yang sebenarnya tidak atau kurang ia butuhkan daripada apa yang ia butuhkan...
laksana orang memilih menempatkan lukisan yang sangat besar sementara ruang tamu tamu nya kecil dan kemudian dia sibuk membongkar memperluas ruang tamunya agar dapat menempatkan lukisan itu..padahal dia bisa memilih yang sederhana dengan memilih lukisan yang kecil yang sesuai dengan ruang tamunya sehingga dia tidak perlu membongkar ruang tamunya...
Orang sibuk bekerja agar dapat memiliki rumah yang megah..tapi dia lupa ada yang lebih penting daripada itu yaitu memelihara kehangatan dalam rumah itu..jadinya dia memiliki rumah yang indah tapi dia kemudian kehilangan kehangatan dalam rumah itu..
Orang kerja untuk mencari makan tapi setelah itu dia sibuk bekerja hingga lupa makan...jadinya dia memiliki keberlimpahan material tapi badan sakit-sakitan..


by ayah BIa Dan Ifor

Rabu, 20 April 2011

Ulat Bulu

Wabah ulat bulu.... begitulah berita yang ada dan ramai dibicarakan orang....
semua pada heboh,,ada yang mengulas dengan nada agak horor.ini tanda-tanda dunia akan berakhir..ada lagi yang mengatakan ini kutukan..dan macam-macamlah
Ulat bulu adalah sebuah pelajaran dari Tuhan buat kita...begitu banyak manusia yang bersikap seperti ulat bulu bergerak hanya dengan perutnya..merayap.. semua hidupnya hanya digerakkan oleh dan berdasar akan kepentingan perutnya dan apa yang ada dibawah perutnya..nafsu syahwat. Hari-demi hari tema hidupnya hanyalah bagaimana bisa makan siapa yang bisa dimakan tanpa mau tahu makanan apa yang dimasukkan dalam perutnya..bagaimana cara mendapatkannya apakah menyakiti dan merugikan orang lain ataukah tidak...
ini gambaran manusia ulat bulu... bisa jadi Tuhan tengah menyentuh hati nurani kita apakah kita cuma akan tetap begini saja... ataukah tidak
Tuhan menawarkan pada kita perubahan bahwa ulat bulu bisa menjadi kupu-kupu dengan syarat berproses metamorphosis dulu..dalam bahasa santri bisa dinamakan proses riyadoh.. mengendalikan diri...sehingga kemudian menjelma menjadi manusia kupu-kupu .. manusia yang mampu menangkap sari peristiwa dalam kehidupan yang kemudian lebih dikenal dengan nama hikmah



by ayah ifor and bia

Kamis, 14 April 2011

Cita-Cita

Suatu sore ketika tengah duduk diruang tamu sambil minum kopi tiba-tiba anakku datang dan menanyakan apakah aku mempunyai cita-cita waktu kecil....aku jadi tersenyum-senyum sendiri..
Aku yakin kita semua ketika kecil bahkan waktu setelah kecil pun pasti punya cita-cita.
Padahal kalau kita mau merenungkan apa sih sebenarnya cita-cita itu..
kita akan mengetahui bahwa cita-cita tak lain adalah gambaran tentang suatu keadaan yang kita persepsikan sendiri akan mendatangkan rasa yang menyenangkan dibanding keadaan saat ini.
Contoh Ada orang yang bercita-cita ingin menjadi kaya raya, setidaknya jauh lebih kaya daripada keadaannya sekarang, berarti dia ini mempersepsikan bahwa harta kekayaan itulah yang dianggapnya akan mendatangkan kesenangan dalam hidupnya.
Ada pula yang bercita-cita untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada sekarang, tentu saja cita-cita itu muncul karena dianggap bahwa hal itu akan mendatangkan kesenangan dalam hidupnya.
Padahal, apakah kekayaan dan kedudukan itu pasti mendatangkan kesenangan? Jawabnya belum tentu...
Ada memang yang bisa merasa senang, akan tetapi juga akan muncul cita-cita yang lain sebagai tandingannya. Yang jelas, tidak akan mendatangkan kebahagiaan melainkan munculnya keinginan yang lain!
Dan seperti dapat dilihat dari bukti sehari-hari, yang dikejar-kejar yang masih merupakan cita-cita itu hanyalah merupakan kesenangan yang pada kenyataannya tidaklah seindah dan sekemilau seperti yang dibayangkannya.
Setelah yang dikejarnya itu dapat, maka apa yang didapat itu hanya mendatangkan kesenangan sepintas saja, lalu membosankan, karena mata kita sudah melihat lagi jauh ke depan, kepada yang kita anggap lebih menyenangkan lagi,Dan itu terjadi berulang kali
Pengejaran terhadap apa yang kita anggap lebih menyenangkan inilah yang justru membuat kita tidak pernah dapat merasakan keindahan saat ini dan tidak pernah dapat menikmati keadaan saat ini. Kita hanya menikmati bayangan-bayangan indah dari cita-cita atau ambisi itu saja...
sahabat.. Alloh sebagai Sang Maha Mencipta sekaligus Maha Mengetahui jauh-jauh hari telah mengajari pada kita melalui sholat yang diperintahkanNya pada kita...
perhatikan kata ketiga dari bacaan doa antara dua sujud dalam sholat kita..
Robbighfirlii,..warhamnii..wajburnii......Yaa Tuhanku..ampuni aku, belaskasihi aku..serta cukupkanlah aku...
Yaa karena hanya dengan rasa cukup itulah maka kita akan mampu merasakan ketentraman dalam batin kita.



by ayah ifor ....

Sabtu, 12 Maret 2011

Lukisan yang salah

Aku mempunyai seorang kawan yang sangat ahli dalam melukis serta menilai sebuah lukisan, anggap saja dia bernama Gito.
Suatu hari dia datang menemuiku sekedar bercakap-cakap membicarakan tentang seni lukis dan beberapa hal tentang para seniman...tiba-tiba Gito bertanya apakah aku mempunyai sebuah lukisan dari hasil karyaku sendiri,ternyata diam-diam temanku Gito ini tau bahwa aku juga suka melukis.Cuma sayangnya aku tidak memiliki banyak koleksi lukisan pasalnya banyak lukisanku yang telah jadi pasti diambil kawan-kawanku yang lain, kata mereka untuk kenang-kenangan.
Aku bilang aku belum membikin lukisan.
Setelah kami ngobrol banyak eh,kawanku Gito ini meminta ijin hendak sholat.Lalu,aku menunjukkan tempat di mana dia bisa berwudhu dan menunjukkan kamar atas yang biasanya aku gunakan untuk shalat.
Ketika si Gito selesai berwudhu dan kulihat dia menaiki tangga menuju kamar atas mendadak aku teringat bahwa justru di kamar atas itulah aku memasang sebuah lukisan hasil karyaku yang kuanggap kurang bagus.
Lukisan itu adalah gambar seorang gadis tengah membawa sebuah bejana air.Ketika melukis aku melakukan kesalahan dalam menghitung jarak antara kedua matanya.Bagi seorang pelukis atau yang telah mendalami teori seni lukis pasti tahu bahwa jarak antara kedua mata adalah sama dengan satu mata.
Seorang pelukis atau yang ahli dalam melukis pasti tahu hanya dengan melihat sekilas saja bahwa lukisanku memiliki kesalahan dalam menentukan jarak tersebut.Tapi,bagi mereka yang tak memahami seni lukis dan tak memiliki kecermatan dalam mengamati sebuah lukisan, pasti tidak akan tahu letak kesalahan lukisanku itu .

Kesalahan dalam melukis itu selalu menggangguku sehingga aku merasa malu untuk menunjukkan lukisan itu, Setiap aku menatap lukisan itu aku selalu terpaku pada kesalahan jarak antara mata itu.
Aku menganggap lukisan itu adalah lukisan terburuk yang pernah aku buat tapi aku merasa sayang untuk membuangnya makanya lukisan itu kutaruh di dinding antara tangga dan pintu masuk kamar atas atau mushollah. Dengan harapan tak terlalu diperhatikan orang.
Sesudah shalat Gito kembali duduk di depan menemuiku tiba-tiba di berkata
"Hai teman lukisan di dinding itu sangat bagus sekali paduan warnanya juga bagus antara latar,pakaian,kulit,dan pencahayaannya"
Jangan mengejek..!'jawabku
Benar kawan.. aku berkata sejujurnya lukisan itu bagus...ucap Gito
"Tapi bukankah jarak antara mata dalam lukisan itu kan salah secara teori lukis?"sergahku
"Tentu saja aku tahu itu kawan,tapi secara keseluruhan lukisan itu bagus baik dalam memilih ,pewarnaan kulit,baju dan pencahayaan serta hal - hal lainnya."
Setelah Gito pulang kuambil lukisan di dinding , kupandangi dan aku mengakuinya apa kata Gito bahwa lukisan itu memang bagus secara keseluruhan seolah-olah kesalahan jarak mata itu tidak begitu nampak.
Sahabat kadang kita melihat diri kita melakukan sebuah kesalahan atau mengalami sebuah kegagalan dan kita terlalu begitu serius memikirkannya , menghukum diri kita secara berlebihan hingga kita lupa untuk memandang secara keseluruhannya dari semua peristiwa tersebut dan menutup kemungkinan bahwa orang lain bisa jadi memilki persepsi yang berbeda dalam menilai kegagalan tersebut.
Seorang gadis cantik karena berjerawat wajahnya dia menjadi minder dalam bergaul atau tampil didepan umum..hanya karena si gadis berfikir bahwa jerawat adalah sebuah kesalahan atau sesuatu yang menghalangi kecantikannya yang sangat ia butuhkan sebagai modal bergaul...sigadis lupa bahwa diterimanya seseorang bisa karena banyak hal bukan hanya tampangnya saja..bisa karena supelnya,.. gaya bicaranya serta akhlaknya dsbnya.


by ayahnya ifor

Rabu, 09 Maret 2011

anggap saja sudah makan..

Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara’ dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem” .


Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)… Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.
Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-citanya yang amat mulia itu dan masyarakat di sekitarnya pun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan. Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairud ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.
Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Khoiruddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritanya seorang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan).



Subhanallah..The power of good willing and commitment..!

(sumber:cahaya iman)


oleh Novita Anggraeni ..ditulis ulang by ayah Ifor & Bia