Senin, 30 Juli 2012

Senter Mbah Waskito

Sudah sangat lama aku memperhatikan kebiasaan Mbah Waskito seorang lelaki tua yang hidup tiga generasi dikampungku.
Dulu ketika mendiang ayahkku masih hidup beliau pernah berpesan padaku agar jangan bersikap tidak sopan terhadap mbah waskito, apalagi ikut berprasangka buruk  terhadap kelakuannya yang kadang unik..karena kata ayahku ada beberapa sikap "nyleneh" dari Mbah Waskito yang mesti difahami dengan bahasa perenungan yang khusus, baru sikapnya yang unik itu bisa difahami;sebagai sebuah pesan yang bijak.
 Berpedoman dari nasehat inilah yang membuat aku selama tiga bulan ini diam-diam memperhatikan kebiasaan ganjil mbah warsito;
 Yaa Mbah Warsito selama tiga bulan ini tak peduli siang atau malam tak pernah lupa membawa senter  ditangannya.' Yang lebih unik lagi kadang Ia menyorotkan senter yang dibawanya  ke wajah seorang yang tengah melamun di pinggir jalan,
kadang ditengah kerumunan anak-anak muda atau ibu ibu yang lagi asyik ngobrol  tiba-tiba mbah Waskito menyorotkan senternya. Pernah terjadi ketika ada dua orang yang tengah bertengkar mendadak Mbah kita ini muncul dan menyorot wajah ke dua orang itu..Tentu saja Mbah Warsito di caci maki habis-habisan oleh orang-orang itu... Dan Mbah Warsito cuma tersenyum lalu pergi dengan santainya.
Suatu ketika aku mendapat kesempatan bertemu dengannya di pinggir jalan, langsung saja ku sapa dan kucium tangannya serta kuajak mampir kerumah.
Setelah berbasa-basi sejenak  aku menanyakan kebiasaannya yang suka membawa senter itu.
Sambil tersenyum Mbah Waskito ini kemudian menerangkan bahwa senter itu adalah alat yang mampu membantu kita untuk memperhatikan lebih jelas keadaan yang ada di sekitar kita ketika suasana gelap.Sehingga kita tidak gampang terpeleset, atau salah lihat didalam gelap.
Serupa itu pulalah Akal manusia. Akal adalah anugerah Alloh untuk manusia agar tidak mudah jatuh kedalam kegelapan dorongan hawa nafsunya.
Dengan akal manusia bisa menganalisa, memilih ataupun merubah keadaan yang kurang baik atau membingungkan  dirinya.
Seperti hanya senter kadang ada yang mudah dinyalakan karena kita tahu tombol mana yang harus ditekan untuk menyalakannya.
 Tetapi ada pula yang sudah punya senter malah kebingungan ketika kegelapan datang padanya..pasalnya karena begitu paniknya ia terhadap kegelapan yang datang sampai sampai ia lupa kalau punya senter yang bisa membantunya untuk tidak terlalu bingung berada dalam kegelapan.
Aku hanya terdiam mendengar uraian Mbah Waskito..
"Tapi Mbah, Kenapa Mbah juga membawa senter itu pada siang hari?  kan itu kurang berguna karena siang hari matahari begitu terang sehingga kita tidak begitu perlu santer..?," celetukku,
" Oh itu hanya agar aku tidak lupa kalau aku punya akal.!" ,jawab Mbah Waskito kalem. sambil berlalu pergi..meninggalkanku.

--------By ayah Ifor Bia------

Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra





Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra

Cerpen A. Mustofa Bisri---Konvensi




Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini --sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah-- martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.


Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja. Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.
***
Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari --kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari-- yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong --dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya-- untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

"Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa," katanya berapi-api. "Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai."

"Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masa lima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit." Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. "Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya saya kan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu."

"Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya."

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup."

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

"Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak."
***
Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

"Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu."

"Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?" tanyaku.

"Ya tidak sekali dua kali," sahutnya, "tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir saya kan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama saya kan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri."

"Tapi akibatnya kan bisa juga mengenai orang banyak?!"
"Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi."

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.
"Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup."

"Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?" selaku.
"Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itu kan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil."
***
Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.
***
"Itulah politik," kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. "Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku --dan kamu ikut mendorong-dorongku-- untuk ikutan maju sebagai cawabup!" ***


Jumat, 30 Maret 2012

Munajah Orang yang bertaubat

Bismillahirrohmaanirrohiim

 Tuhanku..
kesalahan telah menutupku dengan pakaian kehinaan
Perpisahan dariMu telah membungkusku dengan jubah kerendahan
Besarnya dosaku telah mematikan hatiku

Hidupkan aku dengan ampunanMu
Wahai Cinta dan Dambaku
Wahai Ingin dan Harapku

Demi keagungan-Mu
tidak kudapatkan pengampunan dosa selain-Mu
tidak kulihat penyembuh lukaku selain-Mu
Aku pasrah berserah padaMu
Aku tunduk bersimpuh pada-Mu

Jika Kau usir aku dari pintuMu
kepada siapa lagi aku bernaung..?
Jika Kau tolak aku dari sisi-Mu
kepada siapa lagi aku berlindung..?

Celaka sudah diriku
lantaran aib dan celahku
Malang benar aku
karena kejelekan dan kejahatanku

Aku bermohon pada-Mu
Wahai Pengampun dosa yang besar
Wahai Penyembuh tulang yang patah

Anugerahkan padaku penghancur dosa..
Tutuplah untukku pembongkar cela
Jangan lewatkan aku dihari kiamat
dari sejuknya ampunan dan maghfiroh-Mu

Jangan tinggalkan aku
dari indahnya maaf dan pengampunan-Mu

Ilahi...
naungi dosaku-dosaku dengan awan rohmat-Mu
curahi cela-celaku dengan hujan  kasih-Mu

Ilahi..
Kepada siapa lagi  hamba yang lari kecuali kepada Maulanya
Adakah selain Dia yang mampu melindunginya dari Murka-Nya?

Ilahi...
sekiranya sesal atas dosa itu adalah taubat..
Sungguh demi keagungan-Mu aku adalah orang yang menyesal
Sekiranya Istighfar itu penghapus dosa
Sungguh kepada-Mu aku ini ber-istighfar
Terserah pada-Mu jua
( Kecamlah daku sampai Engkau Ridho )

Ilahi..
Dengan kodrat-Mu ampuni aku..
Dengan kasih-Mu maafkan aku
Dengan ilmu-Mu sayangi aku

Ilahii..
Engkaulah yang membuka pintu menuju maafMu kepada hamba-hamba-Mu
Kau namai itu Taubat
Engkau berfirman." Bertaubatlah Taubat nashuha "

Apa halangan orang yang lalai memasuki pintu itu setelah terbuka
Ilahi
jika jelek dosa dari hamba-Mu
baikkanlah maaf dari sisi-Mu

Ilahii
aku bukan yang pertama membantah-Mu dan Kau maaf kan
dan menolak nikmat-Mu namun tetap Kau kasihi

Wahai Yang Maha Menjawab segala pengaduan orang yang berduka
Wahai Yang Maha Pelepas derita
Wahai Yang Maha Penabur Karunia
Wahai Yang Maha Mengetahui Rahasia
Wahai Yang Paling Indah dalam menutup cela

Aku memohon pertolongan dengan karunia dan kebaikan-Mu
Aku bertawasul
Dengan Kemuliaan dan kasih-Mu
Perkenankan doaku , jangan kecewakan harapanku
Terimalah taubatku
hapuskan kesalahanku
dengan karunia dan rohmat-Mu
Wahai yang terkasih dari segala yang mengasihi


( diambil dari buku " Rintihan ahli bait Nabi")

semoga bermanfaat.




 




Selasa, 14 Februari 2012

Sebuah coretan kecil tentang Cinderella


Mungkin kalian pernah baca kisah tentang Cinderella dan sang pangeran..
 betapa bagian yang mengharu biru hati kita adalah ketika kita membaca sampai pada episode betapa kejam ibu tiri serta saudara tirinya kepada Cinderella..sehingga kita merasa begitu iba kepada cindella…
Dan kemudian kita menjadi gembira ketika kita membaca diakhir cerita sang upik abu si Cinderella  menikah dengan sang pangeran serta kemudian hidup berbahagia untuk selamanya.
Cerita ini begitu popular ..dan ketika kita kecil kita sangat senang dengan cerita ini dan tak menemukan kejanggalan dalam cerita anak-anak ini.
Setelah aku dewasa..kisah ini ternyata ku amati memiliki banyak hal yang belum terselesaikan..
Ada pertanyaan yang menggelitik fikiranku.. bagaimana nasib Cinderella ini setelah proses pernikahan nya
Apakah dia begitu saja mampu merubah kebiasaannya dari sebelum menjadi putri istana sampai ia menjadi putri istana?
Bagaimana selera makannya..cara memilih pakaiannya,..parfumnya ..hiasan rambutnya..serta teman-temannya sebelum dan sesudah menjadi putri istana..?
Berubah menjadi orang yang rendah hati dan penuh syukurkah ia ataukah ia berubah menjadi sombong dan tinggi hati?
Bagaimana sikap mertuanya..? saudara iparnya..? apakah begitu mudah semua menerima ia sebagai bagian dari keluarga elit istana…?
Atau jangan-jangan sesungguhnya ia kesulitan dengan itu semua sehingga sang pengarang  diam-diam menutup kisah ini cukup hanya dengan kalimat “ Kemudian setelah menikah Cinderella hidup berbahagia untuk selamanya” agar para pembaca kisah ini terhibur akan sang tokoh kecintaannya.
Kan bisa saja terjadi kemungkinan si Cinderella yang udik ini mengalami minder ketika bergaul dengan kolega sang suami yang elit.
Atau bisa juga terjadi beberapa dari kalangan elit ini merasa terlalu tinggi dan memandang rendah si udik ini…
Sehingga bukan tak mungkin akan terlahir sikap serta ucapan yang kasar serta membikin pedih dan dendam sang Cinderella ini?
Atau bisa juga memang terjadi penerimaan yang arif serta penuh kasih sayang dari kalangan elit ini terhadap anggota baru keluarga ini tanpa memandang dari mana asal sang pendatang..
“Semua bisa saja terjadi…!”
Pasalnya ketika aku dewasa dan menikah aku menjumpai banyak cerita dari teman serta beberapa orang yang ternyata mereka mengalami banyak masalah dengan adaptasi antara menantu dan mertua atau menantu dengan saudara ipar..dan sebaliknya..
Banyak kisah sedih terjadi akibat kisah adaptasi yang ternyata tak mudah ini..
Jika anda adalah Cinderella atau keluarga sang pangeran atau sang pangeran sendiri..
Anda bebas memilih semua kemungkinan yang akan terjadi..
Cuma saranku pilihlah kemungkinan yang paling baik…
Jika Anda adalah Cindella ..maka cobalah untuk bersabar dalam beradaptasi..walau itu memang kadang tak mudah..tapi aku yakin ..insyaalloh dengan keyakinan serta kesabaran semua akan berakhir bahagia..
Jika anda adalah sang pangeran..pahami serta jadilah moderator yang baik dalam adaptasi ini…tentu saja ini butuh kearifan serta kelembutan dan kejelian dalam memilih sikap dan kata serta situasi yang tepat untuk disampaikan pada kedua pihak agar tercapai pemahaman yang baik satu dengan lainnya
Jika anda adalah orang tua atau saudara sang pangeran…cobalah lebih arif dalam melihat proses adaptasi ini..karena hal ini tidak mudah..paling tidak jika anda bersikap bijak dalam menunggu proses adaptasi ini maka anda akan mendapatkan seorang yang sangat menyayangi serta menghormati anda..

By Ayah Bia & Ifor..

Minggu, 22 Januari 2012

Hikmah dibalik angka Nol

Anda tahu angka nol? bentuknya elips atau bulat...tengahnya kosong..
anda juga lihat garis edar bumi..mengelilingi matahari?
yap bentuknya juga elips atau bulat,...anda lihat bentuk bulan purnama atau matahari?
ketika kita belajar tentang teori valensi  atom kita dapat gambaran tentang elektron yang mengelilingi inti
bagaimana gambarnya yaa lagi-lagi elips atau bulat
pernah lihat bagaimana bentuk lintasan orang thowaf di baitulloh? 
yaa lagi-lagi elips atau bulat.
anda tahu roda ..bagaimana bentuknya lagi-lagi bulat juga...
anda tahu jumlah sudut lingkaran? yaa betul jumlahnya 360 derajat. artinya semua garis lingkaran adalah sudut
Ketika kita dulu belajartentang bilangan  desimal angka , jika angka nol diletakkan didepan disertai koma lalu diikuti angka?
ex 0,7 atau 0,007 semakin banyak angka nol dibelakang koma dan didepan angka maka bilangan itu semakin kecil...ex.: 0,00007.
sebaliknya jika angka nol diletakkan dibelakang angka maka bilangan itu akan menjadi lebih besar dari aslinya..ex: 7,..lalu letakkan angka nol dibelakang angka 7 sehingga menjadi 70

ambil angka satu.. kalikan dengan bilangan apa saja maka hasilnya adalah bilangan itu sendiri,.
lalu ambil bilangan lain gunakan sebagai pengali maka hasilnya pun berbeda-beda.
.ex:: 1 x 3. hasilnya tidak sama dengan 1x5
        2 x 3 hasilnya tidak sama dengan 2 x 6

sekarang anda coba menggunakan pengalinya dengan angka nol,
maka  hasilnya akan sama
 ex: 0 x 3 maka hasilnya akan sama dengan 0 x 5 , 0 x 9 dst
sehingga dengan menggunakan pandangan angka nol maka semua bilangan akan menjadi sama saja.
Kalaulah boleh kita sepakati bahwa angka nol berarti sama dengan hampa atau suwung...atau bukan apa-apa
atau kita dalamkan lagi  sebagai bukan siapa- siapa maka bagi siapa saja manusia yang mampu memandang hakekat bahwa dirinya bukan apa- apa , bukan siapa-siapa  maka berlakulah hukum pengalian angka nol tadi  dia tak mudah goyah , tak mudah patah..karena dalam pandangannya ........
baginya seorang pengemis ataupun pegawai kaya ataupun miskin..adalah sama saja sebagai sesama manusia..
Lebih jelasnya  bagi mereka yang mampu menggunakan angka nol ini dalam pandangan batinnya maka ia akan memandang siapa saja sebagai sama....sesama manusia..

Jika anda teliti ..biasanya ketika kita gunakan angka nol ini didalam kehidupan kita,..ketika kita sudah tanpa daya,..mulai " Sumeleh." Pasrah maka muncullah keajaiban pertolonganNya.


( tolong difahami bahwa ini adalah keterbatasan saya dalam memahami angka nol,...jika ada diantara para sahabat yang mendapatkan lebih banyak hikmah dari angka nol ..sudilah menambahkan  agar semakin luas pemahaman kita semua..)

by ayah bia & Ifor


Makanan

Setiap manusia butuh makanan bahkan bukan cuma manusia tapi seluruh makhluk hidup perlu makanan agar mereka tetap bisa hidup dan beraktifitas didalam kehidupannya.
Makanan terbagi menjadi dua garis besar.. satu makanan baik dan satunya lagi yang berbahaya bagi keselamatan manusia tersebut.
Makanan yang berbahaya kemudian dinamakan dengan haram. dan satunya lagi dinamakan halal.
Seluruh indra kita perlu makanan..
mata makanannya adalah melihat, Telinga makanannya mendengar, lisan makanannya berbicara,..kaki dengan berjalan ,tangan dengan menerima ataupun memberi.
Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan banyaknya makanan kadaluwarsa yang beredar dipasaran...maka sibuklah dibuat pengawasan agar makanan kadaluwarsa tidak lagi  bisa beredar dipasaran,..yaa karena kita semua faham bahwa makanan  kadaluwarsa sangatlah berbahaya jika sampai termakan oleh kita....
sayangnya kita selama ini hanya fokus pada makanan fisik saja...padahal banyak makanan fikiran , makanan batin yang kadaluwarsa yang hobby kita makan,..jadinya yaa tentu saja menimbulkan ketak setabilan atau penyakit.dalam batin kita .
Contoh.. Seorang istri atau suami melihat pasangannya selingkuh atau melakukan kesalahan beberapa tahun yang lalu .
.kemudian sang  pasangan ini telah bertobat...kemudian telah berbuat baik ..tetapi kadang suami atau istri tadi menyinggung lagi masalah yang telah lalu itu...jadinya yaa ketak stabilan rumah tangga...
sang pasangan yang telah bertobat dan kemudian berbuat baik ini bisa-bisa berfikir .bahwa perbaikan yang dia lakukan untuk menebus kesalahannya selama ini ternyata sia-sia dia tetap tak dipercaya..lalu buntutnya bisa- bisa berujung pada amarah,..sedih..dst.
 Betapa banyak kita kadang memikirkan lagi sesuatu yang tidak enak yang pernah terjadi dimasa lalu ..akibatnya..rasa tak enak tadi akan muncul lagi dimasa kini..meliputi suasana batin kita dimasa kini.
Untuk itulah perlu difahami bahwa makanan kadaluwarsa memang sangat tidak baik untuk dikonsumsi .Tidak peduli itu makanan jasadiah maupun batiniah...


By Ayah ifor & Bia